Saturday, September 15, 2012

Pentingnya Teknologi

Pentingnya Teknologi Informasi Layanan (Service Orientation Architecture) Bagi Perusahaan 

Artikel manajemen ini adalah melanjutkan penulisan sebelumnya.

Tata kelola dan implementasi bertahap

Langkah kedua yang perlu dipertimbangkan adalah membangun semacam tata kelola SOA atau SOA governance. Hal ini diperlukan untuk mengoordinasikan aktivitas pengembangan services, khususnya yang dilakukan sebuah entitas bisnis yang besar.

Sebuah perusahaan dengan ratusan atau bahkan ribuan developer peranti lunak membutuhkan sebuah pendekatan pengembangan (peranti lunak) bersama untuk menjaga konsistensi dan interoperabilitas antar berbagai services. Para pengembang peranti lunak di unit bisnis yang berbeda lokasi perlu mengetahui services apa yang tersedia. Penggunaan kembali (reuse) kode-kode peranti lunak pun perlu dikedepankan sebagai suatu kebijakan. Untuk mewujudkan hal ini, sebuah kelompok yang khusus mengurusi arsitektur peranti lunak bisa jadi pertimbangan.

Thomson Learning, sebuah grup pemasaran global milik konglomerat media elektronik Thomson Corp misalnya, membentuk semacam architecture council yang menyediakan panduan bagi para pengembang peranti lunaknya. Dewan ini terdiri dari sekelompok enterprise architects berasal dari berbagai unit bisnis Thomson Learning. Tugasnya menyediakan panduan desain dan implementasi teknologi SOA kepada para pengembang peranti lunak di perusahaan itu.

Mereka senantiasa berkomunikasi langsung dengan para pengembang peranti lunak, serta menerbitkan semacam ”cetak biru” untuk merancang services yang dibangun dengan pendekatan SOA, serta mendorong penggunaan common resources berisi services yang sudah dikembangkan. Tujuannya agar pengembangan service yang tengah berjalan bisa berlangsung konsisten.

Tata kelola SOA yang baik juga akan mengurangi risiko ketidakserasian service dan upaya pengembangan yang terlalu berlebihan. Ketika suatu pengembangan peranti lunak tidak terkendali, terjadi duplikasi sourcing code yang berlebihan. Seperti dikatakan Prashanth Ajjampur, vice president of architecture, The Hartford Financial Service Group Inc., duplikasi semacam ini akan berlawanan dengan prinsip reuse yang menjadi manfaat utama SOA.

Selain itu, Ajjampur juga menyarankan perusahaan-perusahaan yang baru mengadopsi SOA untuk memulainya dengan sebuah proyek kecil yang pengelolaannya lebih mudah. Dengan pendekatan seperti ini, sebuah perusahaan bisa memperlihatkan dan merasakan manfaat SOA dengan cepat, serta meraih dukungan manajemen untuk proyek-proyek SOA selanjutnya.

Namun, meski proyek awal SOA ini kecil, para pelaksana tetap harus memiliki big picture ketika mereka memulai proyek-proyek SOA selanjutnya. Untuk itu, menurut Ajjampur, perusahaan bisa memulai dari komponen-komponen dasar yang nantinya akan banyak digunakan kembali. “Untuk itu Anda harus memahami kebutuhan-kebutuhan bisnis yang lebih luas,” ujarnya.

Membuat catalog of services
Ketika sebuah perusahaan memperluas portfolio services-nya, tentunya mereka membutuhkan sebuah mekanisme untuk melacak aset peranti lunak. Untuk itu, para pengguna SOA perlu memiliki semacam catalog of services. Fungsinya mirip dengan direktori atau buku YellowPages dimana para pengembang bisa mengetahui services yang sudah ada sehingga duplikasi pun dapat terhindari.

Sejumlah vendor peranti lunak sudah merilis solusi-solusi katalog SOA ini ke pasar. Mercury Interactive Corp. misalnya sudah merilis Systinet Registry. Sementara vendor-vendor SOA lainnya seperti SOA Software Inc. dan IBM Corp. pun menawarkan solusi service registry, yang memungkinkan para pengembang peranti lunak mempublikasikan services, menyusunnya sesuai kategori dan mencari services yang diinginkan dengan mekanisme pencarian tertentu.

Bahkan, vendor SOA pun sudah menyediakan katalog yang “sudah jadi”, tinggal digunakan sesuai kebutuhan perusahaan. IBM misalnya, memiliki apa yang dinamakan sebagai IBM SOA Business Catalog. Solusi ini memungkinkan pengguna mencari informasi tentang asset SOA atau services, seperti kombinasi kode piranti lunak, intellectual property dan best practises, yang digunakan untuk menyelesaikan beragam permasalahan bisnis yang spesifik.

IBM SOA Business Catalog ini diharapkan akan memuat 3.000 asset SOA, yang mencakup lebih dari 15 industri. Katalog ini menuntun perusahaan pengguna SOA ke piranti lunak IBM atau Mitra Bisnis IBM yang sesuai, termasuk process template, web services, tools dan adapters, serta keterangan bagaimana peusahaan dengan mudah mendapatkan dan mengintegrasikan semua layanan TI ini ke dalam infrastruktur TI yang sudah ada.

IBM SOA Business Catalog ini akan terhubung dengan WebSphere Service Registry and Repository (WSRR), sehingga memungkinkan asset piranti lunak untuk dikatalogkan dan disimpan di sebuah repository.

Menguji dan memonitor services
Seperti pemaparan di atas, suatu service mungkin akan digunakan sekaligus oleh beberapa aplikasi. Untuk itu, pengujian mutlak diperlukan. Karena sebuah service bisa digunakan oleh beberapa aplikasi sekaligus, satu perubahan saja atau bug fix di satu service dapat menimbulkan efek beruntun. Untuk itu, perusahaan-perusahaan yang menerapkan SOA perlu memahami seluruh ketergantungan services dan aplikasi-aplikasi yang menggunakannya.

Setelah itu, ketika sebuah service sudah go live pun perusahaan tetap perlu memantau performanya. Tata kelola saat run-time pun diperlukan. Nah, di sinilah perusahaan memerlukan bantuan peranti lunak services-management. Solusi ini memonitor services setelah selesai dirancang, diujicoba dan digelar.

Menurut Redshaw dari Motorola, perilaku services ini berbeda dengan program-program aplikasi tradisional, sehingga cara mengelolanya pun berbeda. Sebuah peranti services-management misalnya, memperhatikan faktor ketergantungan antara services yang digunakan kembali. Perubahan pada satu services akan mempengaruhi setiap aplikasi yang memanfaatkannya. Produk services-management secara otomatis menemukan interdependensi di antara services ini.

MedicAlert misalnya, menggunakan peranti lunak run-time governance buatan Amberpoint Inc. untuk memonitor kinerja services ini. Peranti lunak itu memungkinkannya melacak kinerja ketika aplikasi berada pada beban puncak dan melakukan sejumlah penyesuaian.
Menurut Mercado dari MedicAlert, peranti services management seperti ini juga bisa menyediakan fungsi failover otomatis. Jadi, ketika sebuah services gagal berfungsi, service¬ back-up akan berjalan. Selain Amberpoint, peranti services-management juga tersedia dari vendor-vendor seperti Progress Software dan SOA Software.

Kolaborasi TI dan bisnis
Seperti halnya inisiatif TI lainnya, SOA pun membutuhkan kerjasama erat antara departemen TI dengan lines of business perusahaan. Karena, bagaimanapun juga, seperti dikatakan Ajjampur dari Hartford, sebuah service didefinisikan sesuai dengan suatu kebutuhan spesifik bisnis. “Untuk membangun SOA seutuhnya, Anda perlu memahami apa yang ingin dicapai pengelola bisnis,” ujarnya.

Agar kolaborasi TI – bisnis ini berjalan lancar, sejumlah perusahaan melakukan pendekatan yang berbeda-beda. Thompson Learning misalnya membentuk semacam dewan yang terdiri dari para chief technology officer (CTO) dari masing-masing unit bisnis grup perusahaan. Mereka rutin melakukan pertemuan untuk membuat dan memperbaiki strategi teknologinya berdasarkan strategi masing-masing unit bisnis.

“Dengan cara ini, kami memastikan bahwa strategi teknologi kami sudah sejalan dengan strategi bisnisnya. Sedangkan dari sisi pengembangan peranti lunak, kami pun bisa memastikan bahwa kami memanfaatkan services yang sudah ada dan membuat servicesservices itu,” ujar Ray Lowrey, senior vice president dan CTO di Thomson Learning. sedemikian rupa sehingga memungkinkan penggunaan kembali (reuse)

Sementara itu, Bank of New York juga membentuk semacam dewan enterprise architecture. Dewan ini mengumpulkan para pakar arsitektur dari berbagai aktifitas pengembangan bank, yang biasanya berafiliasi dengan masing-masing lini bisnis. Dewan ini mendorong pengadopsian common services dan juga memainkan peran dalam mengkaji seluruh usulan pengembangan aplikasi. Sebuah proyek pengembangan aplikasi di bank tersebut tidak akan berjalan sebelum arsitekturnya disetujui.

Agar implementasi SOA bisa diterima semua pihak, edukasi para stakeholder pun sangat diperlukan. Perusahaan perlu mengedukasi baik sisi teknologi maupun bisnis perusahaan. Edukasi semacam ini diharapkan juga akan memicu dialog antara kedua pihak, yang nantinya diharapkan juga akan menguak nilai positif SOA dengan lebih cepat.


Sumber : ebizzasia

No comments:

Post a Comment